Lebarannya sudah tiba Yuk… salam-salaman
Lebarannya sudah dating Yuk…maaf-maafan
Dihari yang fithri ini, silaturrahim
Berkumpul bersama-sama, sanak famil
(Ebith Beat E)
Lebaran atau dalam bahasa resminya kita sebut dengan istilah ‘Idul Fithri, adalah hari dimana seluruh ummat Islam di pelosok bumi manapun merayakan kemenangan hakikiatas keberhasilan dalam melalui rintangan selama Ramadhan. Ramadhan menjadi Syahru at-Tarbiyyah an-Annafs (bulan pembinaan diri), karena sebagaimana diriwayatkan dalam salah satu Hadits Rasulullah Muhammad SAW, bahwa pada bulan Ramadhan, syaithan dibelenggu oleh Allah SWT. Maka, tantangan terberat bagi setiap pribadi muslim adalah melawan hawa nafsu selama Ramadhan. Dan ketika Ramadhan berlalu, Allah SWT memperkenankan siapa saja yang berhasil melewati setiap rintangan untuk merayakan kemenangan di hari ‘Idul Fithri.
Bagi masyarakat Indonesia, Lebaran identik dengan kegiatan mudik (pulang kampong rame-rame) untuk berjumpa kaum kerabat, dengan hidangan yang bermacam ragam dan nikmat-nikmat, pakaian yang serba baru, hingga “salam temple”. Kita perlu bertanya secara jujur kepada hati, inikah esensi Lebaran? Dan penulis meyakini bahwa jawabannya tentu “Tidak”. Lantas apa esensi ‘Idul Fithri yang sesungguhnya?
Pertama, sebagai sarana untuk saling Berbagi. Diakhir Ramadhan, kita diperintahkan Allah SWT untuk membayar Zakat Fithrah selambatnya sebelum Imam pada Khutbah ‘Idul Fithri naik Mimbar.Dalam Haditsnya, Rasulullah menyebutkan tujuan dari Zakat Fithrah selain untuk mensucikan diri bagi orang yang sudah melaksanakan ibadah Shaum (Thuhratu as-Shiyaam), juga menjadi sarana untuk berbagai dengan orang-orang yang fakir dan miskin (Thu’ma al-Masaakiin), agar dihari kemenangan tersebut semua ummat manusia bisa merasakan kegembiraan dan keriangan yang sama.
Kedua,menjadi sarana untuk saling Silaturrahim. Bahwa ‘Idul Fithri juga menawarkan waktu yang luang bagi kita untuk saling mengunjungi sanak saudara dan sahabat, saling berbagi hati dan saling berbagi kasih saying dihari dimana kita disucikan Allah SWT. Dengan harapan ikatan Ukhuwah Islamiyyah (persaudaraan Islam) semakin kuat dan erat diantara kita.
Ketiga, momentum untuk saling Memaafkan. Aktifitas mengunjungi sanak saudara dan sahabat, tentunya tidak hanya sekedar dating dan kemudian pulang. Namun, harapan bahwa pada momentum tersebut lebih bermakna dengan saling mengungkapkan kata “maaf” yang tulus atas semua salah, khilaf, dan alpa dalam sikap maupun tindakan yang pernah melukai hati kita. Dan kelapangan hati untuk memaafkan adalah “permata” yang sangat berharga di hari ‘Idul Fithri yang di berkahi Allah SWT
Terakhir, semoga ‘Idul Fithri kita di 1430 H ini menjadi lebih bermakna dengan sikap dan tindakan-tindakan kita yang sesuai dengan hakikat ‘Idul Fithri itu sendiri. Wallahu A’alam Bish-Shawaab. (Muhammad Taufik Nasution)
Penulis adalah Alumni Fakultas Hukum Universitas Islam Sumatera Utara 2008, Mantan Ketua Umum UKDM-UISU 2007-2008 dan mahasiswa Pasca Sarjana USU